Aksesibilitas Hambat Pariwisata Kaltim, Perlu Koordinasi Lintas Sektor
Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalimantan Timur, Awang Jumri, menyoroti aksesibilitas sebagai kendala utama pengembangan pariwisata di daerah. Ia berpendapat bahwa meskipun Kaltim memiliki daya tarik wisata yang kuat, akses yang sulit seringkali menghalangi wisatawan untuk berkunjung.
Aksesibilitas Jadi Kendala Utama
Awang Jumri mengungkapkan bahwa potensi wisata Kaltim sangat beragam, mulai dari pesut, orangutan, hingga keindahan susur sungai. Namun, aksesibilitas yang kurang memadai menjadi penghalang utama bagi wisatawan.
“Kita punya banyak daya tarik, dari pesut, orangutan, hingga susur sungai. Tapi akses itu yang sering membuat orang belok,” ujar Awang usai mengikuti kegiatan bincang pariwisata di Kapal Wisata Pesut Harmony, Minggu (7/12/2025).
Waktu Tempuh yang Panjang
Sebagai contoh, Awang menyoroti perjalanan menuju Tenggarong dengan kapal wisata yang memakan waktu hampir tiga jam dari Samarinda. Hal ini dinilai kurang efisien bagi wisatawan, terutama mancanegara, yang mengutamakan kenyamanan dan waktu tempuh yang singkat.
Koordinasi Lintas Sektor Diperlukan
Awang menekankan perlunya koordinasi yang kuat antar sektor pemerintah daerah, termasuk Dinas Perhubungan dan PUPR, untuk memperbaiki aksesibilitas ke destinasi wisata. Ia juga menyoroti bahwa beberapa ruas jalan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat menjadi tantangan tersendiri.
“Harusnya ada kolaborasi. Banyak jalan yang jadi akses wisata itu statusnya pusat, jadi daerah tidak bisa intervensi. Ini salah satu kendala besar kita,” terangnya.
Potensi Wisata Kaltim yang Kaya
Meskipun menghadapi kendala aksesibilitas, Awang menegaskan bahwa Kaltim memiliki kekayaan wisata yang besar, meliputi alam, budaya, dan wisata buatan. Ketiga elemen ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
“Alam kita kuat, budaya kita kaya. Ada budaya Kutai, Paser, Dayak, Banjar, semuanya jadi atraksi. Wisata buatan juga banyak. Tinggal bagaimana mengemasnya,” katanya.
Fokus pada Wisatawan Peminat Khusus
Awang menjelaskan bahwa wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kaltim umumnya adalah mereka yang memiliki minat khusus, terutama pada satwa endemik dan keindahan alam. Wisata buatan lebih berfungsi sebagai pelengkap pengalaman, bukan tujuan utama.
Pengembangan Desa Wisata sebagai Solusi
Awang menyambut baik langkah Dinas Pariwisata Kaltim dalam mengembangkan desa wisata. Menurutnya, desa wisata adalah wadah yang tepat untuk menampilkan budaya dan kehidupan lokal yang otentik, yang dicari oleh wisatawan.
“Desa wisata itu cara memperbanyak potensi daya tarik. Hal yang sifatnya organik dan alami harus jadi publisitas kita ke dunia luar. Orang luar tidak tahu budaya kita seperti apa, dan semuanya tercermin di desa,” jelasnya.
Kesiapan SDM dalam Pengembangan Desa Wisata
Awang menekankan pentingnya kesiapan SDM, terutama Pokdarwis dan pramuwisata desa, dalam menerima wisatawan dan mengelola destinasi secara profesional. Ia juga menekankan pentingnya penerapan unsur 6A (atraksi, aktivitas, akses, amenitas, ancillaries, dan akomodasi) sebagai standar pengembangan desa wisata di Kaltim.
“SDM-nya harus siap, dari pemanduan, destinasi, amenitas, sampai kelembagaan. Itulah kenapa desa wisata sekarang benar-benar dikembangkan oleh dinas,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow